Jombang, SMK TI Annajiyah Bahrul Ulum — Di tengah arus digital yang terus berkembang, SMK TI Annajiyah Bahrul Ulum menjadi salah satu sekolah yang berupaya menyeimbangkan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai pesantren. Melalui konsep jejaring belajar, sekolah ini menggabungkan kekuatan spiritual, adab, dan keilmuan klasik dengan sistem pendidikan modern berbasis teknologi informasi.
“Teknologi hanyalah alat, tanpa nilai dan adab, ia kehilangan arah,” ujar salah satu guru SMK TI Annajiyah yang juga menjadi pengampu mata pelajaran Tata Kamera dan Tata Cahaya.
Konsep jejaring belajar terinspirasi dari gagasan Prof. Triyo Supriyatno, Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang menekankan pentingnya pertemuan antara dua tradisi pendidikan: pesantren yang berakar pada nilai dan adab, serta sekolah modern yang berlandaskan inovasi dan teknologi.
Pesantren dikenal memiliki kekuatan dalam membangun relasi guru-santri dan menjaga sanad keilmuan, sementara sekolah modern unggul dalam akses informasi dan efisiensi pembelajaran digital. SMK TI Annajiyah berusaha menjembatani keduanya — menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi bagi pembelajaran berbasis teknologi.
Setiap hari, siswa SMK TI Annajiyah memulai kegiatan dengan tadarus dan halaqah, sebelum beralih ke laboratorium komputer dan studio multimedia. Dalam keseharian itu, nilai adab tetap dijaga: menghormati guru, bekerja dengan ikhlas, dan mengutamakan kebersamaan.
Guru-guru di SMK TI Annajiyah juga aktif menggunakan platform digital seperti Google Classroom, Canva, dan CapCut for Education untuk mengelola pembelajaran, namun tetap menyeimbangkannya dengan tatap muka dan pendampingan langsung.
Salah satu inovasi unggulan adalah proyek Nejisquad — tim kreatif siswa yang mengelola konten multimedia sekolah. Mereka memproduksi video, animasi, dan foto dengan nilai-nilai moral khas pesantren.
“Kami tidak hanya membuat konten menarik, tapi juga menginspirasi kebaikan,” ungkap salah satu anggota Nejisquad saat sesi mentoring mingguan.
Melalui kegiatan ini, siswa dilatih tidak hanya menjadi kreator digital, tetapi juga komunikator nilai: memahami etika bermedia, tanggung jawab sosial, dan makna kebermanfaatan karya.
Pendidikan abad ke-21 menuntut siswa tak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara moral dan emosional. SMK TI Annajiyah percaya bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penanaman nilai-nilai spiritual.
“Teknologi tanpa adab menciptakan keterhubungan yang semu. Nilai tanpa teknologi tertinggal oleh zaman. Keduanya harus berjalan bersama,” tutur guru SMK TI Annajiyah dalam refleksi pembelajaran.
Jejaring belajar di SMK TI Annajiyah adalah upaya kecil untuk menghadirkan wajah baru pendidikan Indonesia — pendidikan yang tidak hanya menyiapkan tenaga kerja digital, tetapi juga membentuk insan beradab.
Dengan menggabungkan semangat ngaji, ngabdi, dan berinovasi, sekolah ini berharap menjadi model bagi lembaga lain dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global.
Copyright © 2026 SMKTI ANNAJIYAH, All rights reserved.
Developed by BismaLabs.co.id