SMKTI ANNAJIYAH

BAHRUL ULUM TAMBAKBERAS JOMBANG

Dusun Tambakberas, Desa Tambak Rejo, Kec. Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61419

Budaya Masyarakat Pesantren dan Masyarakat 5.0 dalam Perspektif Sains dan Islam

23 Oktober 2025 | Artikel | SMKTI ANNAJIYAH | Dilihat 138 Kali

Budaya Masyarakat Pesantren dan Masyarakat 5.0 dalam Perspektif Sains dan Islam

Budaya Masyarakat Pesantren dan Masyarakat 5.0 dalam Perspektif Sains dan Islam

Oleh: Muhammad Hafidh Riqo Fandany (NIM. 25060521004)
Mahasiswa S2 Informatika, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Pendahuluan

Dalam lintasan sejarah pendidikan Islam di Indonesia, lembaga pesantren memainkan peranan penting sebagai pusat keilmuan, kearifan lokal, dan penanaman karakter adab bagi generasi muda. Di era digital dan revolusi teknologi yang makin cepat, muncul pula konsep Masyarakat 5.0 (Society 5.0) yang ditawarkan sebagai model masyarakat masa depan yang berpusat pada manusia sambil mengintegrasikan ruang maya dan fisik serta teknologi canggih. Tulisan ini mencoba menganalisis bagaimana budaya masyarakat pesantren dapat dipahami dalam perspektif sains dan Islam, serta bagaimana hal itu berinteraksi — dan kadang meneguhkan atau menantang — konsep masyarakat 5.0. Selain itu, tulisan ini juga mengkritisi kesalahan perspektif media, khususnya Trans7, dalam memandang dan merepresentasikan budaya pesantren.

Konsep Masyarakat 5.0 dan Sains

Konsep masyarakat 5.0 berasal dari Jepang sebagai kelanjutan dari masyarakat berburu (1.0), agraris (2.0), industri (3.0), dan informasi (4.0). Pada masyarakat 5.0, teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), big data, dan integrasi antara dunia fisik dan virtual bukan hanya alat produksi, melainkan bagian keseharian manusia. Dari perspektif sains, teknologi itu sendiri bergerak sebagai alat dan medium: sensor, data, jaringan, interoperabilitas sistem, serta pengaruh sistem sibernetik.

Namun dalam kerangka Islam, sains dan teknologi tidak hanya berhenti di ranah teknis: keduanya harus dipahami sebagai amanah dan sarana khidmah (pelayanan), ‘ilm (pengetahuan), serta akhlaq (etika). Sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Mujadilah: 11), “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” Ilmu tanpa adab akan kehilangan arah, sementara adab tanpa ilmu akan kehilangan kekuatan.

Budaya Masyarakat Pesantren: Nilai, Relasi, dan Keilmuan

Lembaga pesantren di Indonesia secara historis memiliki karakteristik khas: keilmuan yang dipindahkan melalui sanad guru-santri, kehidupan bersama dalam komunitas, serta nilai-nilai spiritual yang menekankan tawadhu‘, ta‘dzim, ikhlas, dan ukhuwah. Budaya pesantren dapat dipandang secara ilmiah sebagai jejaring sosial keilmuan yang kuat, berbasis praktik dan kebersamaan, bukan sekadar transfer konten.

Dari perspektif Islam, budaya pesantren mengandung dimensi spiritualitas dan akhlak yang menghubungkan manusia, ilmu, dan Tuhan. Tradisi ini membentuk model pendidikan holistik: kognitif, afektif, dan spiritual yang saling melengkapi.

Pertemuan antara Pesantren dan Masyarakat 5.0

Pesantren dan masyarakat 5.0 sesungguhnya dapat bersinergi. Masyarakat 5.0 menekankan manusia sebagai pusat dari teknologi; hal ini sejalan dengan konsep pendidikan pesantren yang menempatkan manusia (santri) sebagai subjek moral dan spiritual. Teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya.

Pesantren dapat menjadi ruang integrasi teknologi dan nilai, di mana AI, media digital, dan sistem daring digunakan untuk memperluas dakwah dan pendidikan, tanpa kehilangan adab dan kesederhanaan. Pengajaran kitab klasik bisa dilakukan secara hybrid, alumni pesantren dapat terhubung secara digital, dan jaringan keilmuan dapat diperkuat melalui platform daring.

Tantangan dan Kontradiksi

  • Kesenjangan akses teknologi: Pesantren di daerah masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital dan sumber daya manusia yang kompeten di bidang IT.
  • Resistensi terhadap perubahan: Sebagian pesantren masih khawatir bahwa teknologi akan merusak nilai-nilai spiritualitas.
  • Dinamika nilai dan etika digital: Kemudahan akses informasi dapat menyebabkan degradasi moral jika tidak diimbangi pendidikan adab digital.

Kesalahan Perspektif Trans7 terhadap Budaya Pesantren

Beberapa tayangan Trans7, khususnya dalam program Xpose Uncensored, menuai kritik publik karena dianggap melecehkan lembaga pesantren. Tayangan tersebut menggambarkan pesantren sebagai institusi feodal dan kolot tanpa menyertakan konteks sosial dan historisnya. Padahal, relasi guru-santri dalam pesantren adalah bentuk penghormatan spiritual, bukan subordinasi.

Kesalahan utama tayangan itu terletak pada generalisasi dan bias media yang lebih mengedepankan sensasi daripada pemahaman. Trans7 gagal memahami bahwa budaya pesantren adalah sistem nilai yang kompleks — bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi sistem pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Dalam konteks masyarakat 5.0, media seharusnya berperan sebagai jembatan dialog, bukan perusak citra.

Implikasi dan Rekomendasi

  1. Integrasi nilai dan teknologi: Pesantren perlu merancang kurikulum yang memadukan ilmu sains dan teknologi dengan adab serta etika Islam.
  2. Transformasi media: Media nasional harus memahami konteks budaya pesantren secara objektif, edukatif, dan penuh hormat.
  3. Peningkatan kapasitas digital: Pemerintah, lembaga pendidikan Islam, dan industri teknologi perlu bersinergi memperkuat infrastruktur digital pesantren.
  4. Pendidikan Islam 5.0: Konsep ini dapat menjadi arah baru pendidikan yang menempatkan teknologi dalam bingkai nilai tauhid dan kemanusiaan.

Penutup

Budaya masyarakat pesantren menawarkan warisan nilai yang sangat relevan dengan cita-cita masyarakat 5.0. Integrasi sains dan Islam melalui pendidikan berbasis nilai menjadi kunci menghadapi era digital tanpa kehilangan arah spiritual. Kesalahan perspektif media seperti Trans7 hendaknya menjadi pelajaran agar representasi pesantren tidak jatuh pada simplifikasi dan stigma.

Sebagai mahasiswa S2 Informatika di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya meyakini bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan pada penguasaan teknologi, melainkan pada kemampuan menjaga nilai di tengah modernitas. Pesantren dan masyarakat 5.0 tidak perlu saling meniadakan, keduanya dapat bersinergi membangun peradaban ilmu yang beradab.


budaya masyarakat pesantren masyarakat 5.0 sains dan Islam pendidikan Islam digital pesantren dan teknologi Trans7 dan budaya pesantren pendidikan beradab digital integrasi nilai dan teknologi etika digital dalam Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Disqus config items not setup correctly, please check library config settings